Jumat, 16 November 2012

ASURANSI MENURUT ULAMA DAN CENDIKIAWAN MUSLIM


Di kalangan ulama dan cendekiawan Muslim ada 4 (empat) pendapat tentang hukum asuransi, yakni:
·  Mengharamkan asuransi dalam segala macam dan bentuknya sekarang ini, termasuk asuransi jiwa:
·  Membolehkan semua asuransi dalam prakteknya sekarang ini
·  Membolehkan asuransi yang bersifat social dan mengharamkan asuransi vane semata-mata bersifat komersial:
·  Menganggap syubuhat.
Pendapat pertama didukung antara lain Sayid Sabiq pengarang Fiqhus Sunnah, Abdullah Al-Qalqih, mufti Yordania, muhammad Yusuf al-Qardhawi pengarang Al-Halal wal Haram fii Islam.dan Muhammad Bakhit al-Muth’i,  Mufti Mesir.  Alasan-alasan mereka yang mengharamkan asuransi itu antara lain sebagai berikut:
·  Asuransi pada hakikatnya sama atau serupa dengan judi
·  Mengandung unsur tidak jelas dan tidak pasti
·  Mengandung unsur riba/rente.
·  Mengandung unsur eksploatasi, karena pemegang polis kalau tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya, bisa hilang atau akan dikurangi uang premi yang telah dibayarkan.
·  Premi-premi yang telah dibayarkan oleh para pemegang polis diputar dalam praktek riba (kredit berbunga).
·  Asuransi termasuk akad sharfi, artinya jual beli atau tukar menukar mata uang tidak dengan tunai (cash and carne).
·  Hidup dan mati manusia dijadikan obyek bisnis. yang berarti mendahului takdir Tuhan Yang Mahakuasa.
Pendukung pendapat kedua antara lain ialah: Abdul Wahab Khallaf,  Mustafa Ahmad Zarqa, Guru Besar Hukum Islam pada Fakultas Syariah Universitas Syria, Muhammad Yusuf Musa. Guru Besar Hukum Islam pada Universitas Cairo Mesir, dan Abdurrahman Isa, pengarang Al-Muamalat al-Haditsah wa Ahkamuha Alasan mereka yang membolehkan asuransi termasuk asuransi jiwa antara lain sebagai berikut:
·  Tidak ada nas Al Qur’an dan Hadis yang melarang asuransi.
·  Ada kesepakatan/kerelaan kedua belari pihak.
·  Saling menguntungkan kedua belah pihak.
·  Mengandung kepentingan    umum (maslahah amah). Sebab premi-premi yang terkumpul bisa diinvestasikan untuk proyek-provek yang produktif dan untuk pembangunan.
·  Asuransi termasuk akad mudharabah, artinya akad kerjasama bagi basil antara pemegang polis (pemilik modal  dengan pihak perusahaan asuransi yang memutar modal atas dasar profit and loss sharing- (PLS).
·  Asuransi termasuk  koperasi (Syirkah ta ‘awuniyah)
·  Digiyaskan (analogi) dengan sistern pensiun, seperti Taspen.
Pendukung pendapat ketiga antara lain ialah: Muhammad Abu Zahrw , Guru Besar Hukum Islam pada Universitas Cairo Mesir. Alasan mereka membolehkan asuransi yang bersifat sosial pada garis besarnya sama dengan alasan pendapat kedua. sedangkan alasan yang mengharamkan asuransi yang bersifat komersial pada garis besarnya sama dengan alasan pendapat pertama.
Adapun alasan mereka yang menganggap asuransi syubhat, karena tidak ada dalil-dalil syar’iyang secara jelas mengharamkan atau pun menghalalkan asuransi. Dan apabila hukum asuransi di kategonkan syubuhat maka konsekuensinya adalah kita dituntut bersikap hati-hati menghadapi asuransi dan kita baru diperbolehkan mengambil asuransi, apabila dalam keadaan darurat atau hajat/kebutuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar